Teori Kopi Instan
Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya (Amsal 21:20).
Dengan pemaparan yang menarik, Rabbi Harold Kushner, yang terkenal bijak itu, menjelaskan Teori Kopi Instan. Ia mengatakan bahwa saat kita membuka sebuah botol kopi instan yang baru, kita cenderung mengambil kopi banyak-banyak, karena kita merasa mempunyai seluruh isi botol itu. Tetapi, setelah setengah isi botol tersebut habis, kita akan menjadi sangat hemat mengambilnya. Dan saat kopi itu hampir habis, kita dengan teliti mengukur takaran kita, sambil mengorek-ngorek lekukan botol untuk mengambil butir-butir kopi terakhir.
Kebanyakan kita adalah penganut setia Teori Kopi Instan ini. Kapan kita begitu gila berbelanja? Bukankah biasanya pada saat tanggal muda, saat uang yang ada di dompet kita masih cukup tebal? Pada pertengahan bulan, kita akan lebih hemat. Lalu, pada akhir bulan, beberapa di antara kita mungkin akan mengobrak-abrik laci lemari atau mencari-cari di kolong ranjang kita, siapa tahu kita menemukan uang receh disitu. Teori Kopi Instan juga berlaku pada persoalan waktu. Ketika waktu masih panjang, kita cenderung ceroboh menggunakannya karena berpikir bahwa kita masih mempunyai banyak waktu. Tetapi setelah waktunya hampir selesai, barulah kita kelabakan.
Penganut Teori Kopi Instan cukup mengindikasikan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki prioritas hidup dengan bijak, baik soal mengatur uang, waktu, maupun hal-hal yang lainnya. Akhirnya, mereka harus berurusan dengan kesulitan-kesulitan yang sebenarnya tidak perlu terjadi – Petrus Kwik
No comments yet.
Leave a comment
| Next »
-
Archives
- June 2008 (1)
- May 2008 (2)
- March 2008 (1)
- February 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS